JAKARTA, Lintaspena.com – Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Yassierli menekankan pentingnya generasi muda untuk terus meningkatkan keterampilan (skill) mereka secara intensif. Langkah ini dinilai krusial agar angkatan kerja nasional mampu menghadapi lanskap dunia kerja baru yang dinamis akibat perkembangan teknologi.
Menurut Menaker, tantangan ketenagakerjaan domestik ke depan tidak hanya berkutat pada perluasan kesempatan kerja massal. Pemerintah kini fokus membekali tenaga kerja Indonesia dengan keahlian masa depan (future skills) yang sejalan dengan gelombang disrupsi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI).
“Kepada generasi muda, stay relevan dan terus upgrade skill Anda karena dunia kerja masa depan mencari skill, not school,” kata Menaker Yassierli saat menghadiri Peluncuran Program XLSMART Future Ready di Jakarta, Kamis (2/7/2026).
Menaker menjelaskan bahwa Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) memberikan apresiasi tinggi terhadap berbagai inisiatif swasta yang peduli pada mutu SDM. Komitmen penguatan kompetensi generasi muda dari lintas sektor dinilai mempercepat adaptasi pasar kerja lokal.
Ia menilai kolaborasi antarpemangku kepentingan menjadi kunci utama untuk menyiapkan sumber daya manusia Indonesia yang berdaya saing global. Sinergi ini juga mempermudah pemetaan kurikulum pelatihan agar sesuai dengan spesifikasi yang dibutuhkan oleh sektor industri modern.
“Kami mengapresiasi semua inisiatif yang dibangun berbagai entitas bangsa. Yang terpenting, kita sama-sama peduli dan melakukan aksi nyata untuk meningkatkan kompetensi anak bangsa,” ujarnya dalam sambutan tertulis Biro Humas Kemnaker.
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa perkembangan teknologi seperti Internet of Things (IoT) dan sistem otomatisasi akan terus mengubah peta kebutuhan industri. Oleh karena itu, siklus peningkatan keterampilan wajib dilakukan berkelanjutan sepanjang hayat (lifelong learning).
Pola pelatihan yang adaptif diperlukan agar tidak ada kelompok masyarakat yang terpinggirkan akibat ketidakmampuan beradaptasi dengan teknologi. Menaker tidak ingin kemajuan sistem digital justru memperlebar jurang kesenjangan sosial ekonomi di tanah air.
“Semangat kami di Kemnaker adalah no one left behind. Jangan sampai disrupsi AI dan otomatisasi membuat anak bangsa kehilangan kesempatan hanya karena tidak memiliki akses untuk meningkatkan keterampilannya,” tegas Yassierli.
Pada kesempatan yang sama, Kemnaker melalui Direktorat Jenderal Pembinaan Pelatihan Vokasi dan Produktivitas (Binalavotas) menandatangani Kesepahaman Bersama dengan XLSMART. Kerja sama ini difokuskan untuk memperkuat ekosistem vokasi nasional melalui Program Future Ready.
Ruang lingkup kerja sama tersebut mencakup optimalisasi pemanfaatan fasilitas Balai Besar Pelatihan Vokasi dan Produktivitas (BBPVP) di berbagai daerah. Selain itu, poin kemitraan juga mencakup standarisasi sertifikasi kompetensi hingga fasilitasi program pemagangan kerja.
Menaker berharap kolaborasi ini tidak berhenti pada seremoni penandatanganan di atas kertas semata, melainkan segera dieksekusi secara nyata di lapangan. Hasil akhir dari program bersama ini ditargetkan mampu melahirkan serapan tenaga kerja digital yang produktif. (Agus)










Tidak ada Respon