Teks Foto; Pemerintah Desa Bangun Rejo bersama Tim TPPS Kecamatan Ketapang saat menggelar Rembuk Stunting tahun 2024 yang dilaksanakan di kantor desa setempat, Rabu sore (3/7/2024).

Lintaspena.com, Lamsel — Tak lagi menyandang predikat desa locus stunting, karena grafik data balita stunting di Desa Bangun Rejo dari tahun 2019 hingga 2023 terus menurun. Dan di tahun 2024 tersisa 1 balita lagi. Dan saat ini sudah dalam penanganan intensif oleh instansi kesehatan.

Hal tersebut diungkapkan oleh Sekretaris Kecamatan Ketapang Elhayati, S.E dalam kegiatan rembuk stunting tingkat desa yang diselenggarakan di Aula Desa Bangun Rejo pada Rabu sore (3/7/2024) yang diikuti oleh Camat Ketapang Rendy Eko Supriyanto, S.STP, Kepala Desa Bangun Rejo Rohgiyanto, Ketua BPD

Hadir juga, Korluh Dalduk dan KB, UPTD Pertanian, UPTD Perikanan, UPTD Kesehatan Puskesmas Ketapang, Kader Posyandu, Kader KPM, Bidan Desa Pendamping Desa dan Pendamping Lokal Desa.

Dalam sambutannya, Sekcam Elhayati menjelaskan pada tahun 2019 untuk di Kecamatan Ketapang ada 2 desa yang locus stunting, yakni Desa Lebung Nala dan Desa Bangun Rejo. Berdasarkan data sekunder dari bidan desa dan Puskesmas;
– Tahun 2019 terdapat 25 kasus stunting dengan persentase 10,3%.
– Tahun 2020 terdapat 38 kasus stunting dengan persentase 18,6%.
– Tahun 2021 mengalami penurunan terdapat 17 kasus stunting dengan persentase 18,6%.
– Tahun 2022 kembali menurun terdapat 7 kasus stunting dengan persentase 3,70%.
– Tahun 2023 kembali menurun dan terdapat 5 kasus stunting dengan persentase 2,42%.
– Dan pada tahun 2024 menurun hanya tinggal 1 balita yang masih dinyatakan stunting.
– Tahun

“Dengan adanya rembuk stunting ini, sudah saatnya menjadi percontohan dan bisa kaji tiru K3 (kandang, kolam dan kebun) milik ibu Ketut yang ada di Desa Budidaya Kecamatan Palas untuk diterapkan pada setiap rumah masing-masing. Khususnya keluarga beresiko stunting, ” harapnya.

Pada kesempatan tersebut, Camat Ketapang Rendy, Eko Supriyanto, S.STP memberikan sedikit arahan untuk penuntasan kasus stunting di setiap desa, khususnya Desa Bangun Rejo, wajib melakukan verifikasi dan validasi data keluarga berisiko stunting pada pasangan usia subur (PUS), ibu hamil, keluarga yang memiliki baduta dan keluarga yang memiliki balita.

Kemudian bisa buat rumah percontohan K3 pada setiap masing-masing rumah dengan harapan bisa zero stunting dan bisa menjadi desa percontohan dengan masyarakatnya yang mandiri, ” ucapnya.

Sedangkan Kepala Desa Bangun Rejo Rohgiyanto mengapresiasi atas upaya para kader kesehatan dan bidan desa untuk menuntaskan persoalan stunting yang ada di Desa Bangun Rejo. Dan dirinya selaku kepala desa berkomitmen untuk terus berjuang untuk menuntaskan stunting hingga mencapai target zero stunting.

“Ucapan terima kasih kepada seluruh para kader dan bidan desa yang telah melaksanakan kegiatan di setiap posyandu dan satu pemahaman dengan Pemerintahan Desa Bangun Rejo dalam pencegahan dan penanganan serta penuntasan masalah stunting. Sekali lagi kami ucapkan terima kasih kepada ibu bidan yang telah mendampingi para kader kesehatan, ” ucapnya.

Kades Rohgiyanto berharap, dengan semangat gotong-royong mudah-mudahan apa yang diharapkan bersama, yakni menciptakan generasi sehat, unggul dan berprestasi dengan tidak muncul kembali masalah stunting pada tahun-tahun berikutnya, ” pungkasnya. (Mu’min/Yan)

About The Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *