Teks Foto; Kepala Desa (Jaro) Ruguk Bapak Saiful, S.E saat memberikan sambutan pada acara kegiatan Rembuk Stunting Tahun 2024 bersama Tim Percepatan Penurunan Stunting Kecamatan Ketapang, di kantor desa setempat, KamisĀ (4/7/2024).

Lintaspena.com, Lamsel – Pemerintah Desa Ruguk terus berupaya melakukan upaya penanganan stunting diwilayahnya. Salah satunya melalui Rembuk Stunting Tingkat Desa tahun 2024 bersama Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS) Tingkat Kecamatan Ketapang untuk memperkuat kolaborasi bersama dalam upaya percepatan, pencegahan dan penurunan stunting.

Kegiatan berlangsung di kantor Desa Ruguk, Kecamatan Ketapang, Kabupaten Lampung Selatan pada Kamis pagi (4/7/2024) yang bertujuan menggalang kerjasama dan koordinasi lintas sektor serta memperkuat komitmen serta menyepakati rencana intervensi penurunan stunting. Agar generasi sehat, unggul dan berprestasi menuju Indonesia emas tahun 2045.

Dalam sambutannya, Kepala Desa (Jaro) Ruguk, Saiful, S.E mengatakan, dalam acara Rembuk Stunting tersebut pihaknya melibatkan stakeholder terkait. Diantaranya, Camat, Korluh Dalduk dan KB, UPTD Puskesmas Ketapang, Kader Posyandu, Kader KPM, Bidan Desa, TP-PKK, BPD serta seluruh aparatur desa dan tokoh masyarakat .

“Stunting adalah momok bagi kita semua. Karena generasinya tak produktif dan unggul. Maka pentingnya rembuk stunting ini sebagai motivasi kita semua untuk bersama-sama meminimalisir ada kasus stunting di wilayah Desa Ruguk, ” Kata Jaro Saiful.

Menurutnya, untuk mewujudkan cetak generasi unggul dan cerdas, syaratnya diawali tidak ditemukannya ada kasus balita yang beresiko stunting. Diawali dari ibu-ibu hamil yang harus berkala memeriksakan diri ke Posyandu. Begitu juga dengan balita.

“Penanganan dan penuntasan masalah bisa diatasi dengan kolaborasi dan sinergi bersama. Untuk itu saya tegaskan kepada seluruh kepala dusun agar proaktif dan wajib hadir dalam setiap kegiatan posyandu. Dan jika ada laporan ada Kadus yang tidak hadir, maka akan dapat surat peringatan (SP), ” tegasnya.

Dirinya menambahkan, Rembuk Stunting ini dilaksanakan dengan merumuskan, merancang, dan mendiskusikan langkah-langkah yang akan dilakukan untuk penangan stunting.

Mulai dari persiapan pernikahan bagi calon pengantin, perawatan dan asupan ibu hamil dan ibu menyusui, serta asupan kepada balita yang sesuai dengan gizi seimbang.

“Tentunya bersinergi dengan UPTD Puskesmas Ketapang, kader kesehatan dan bidan desa dalam memberikan edukasi,” tambahnya.

Dalam hal ini, Jaro Saiful berpesan kepada seluruh masyarakat untuk meningkatkan kesadaran dalam mencegah stunting, sebab upaya penurunan stunting dimulai dari lingkungan keluarga.

“Edukasi terus kami sampaikan melalui para kader kesehatan dan perawat desa, artinya masyarakat harus punya kesadaran tinggi untuk mengatasi stunting. Kemudian yang perlu dipahami, bantuan dari desa sifatnya hanya perangsang menuju keluarga mandiri, ” tandasnya.

Dalam diskusi musyawarah atau rembuk stunting tersebut kader kesehatan mengusulkan beberapa usulan untuk dianggarkan di tahun 2025 mendatang yang dipandu oleh Pendamping Desa Ahmad Efendi diantaranya;

– Pengusulan meja posyandu dan air bersih di posyandu.
– Pengusulan timbangan untuk berdiri (digital).
– Melengkapi sarana prasarana yang belum lengkap di setiap posyandu.
– Program edukasi untuk para remaja tentang bahaya stunting dan kesehatan dalam berkeluarga.

Sebagai informasi data sekunder dari bidan desa setempat, jumlah ibu hamil di Desa Ruguk sebanyak 57. Ibu hamil beresiko stunting sebanyak 5 orang. Kemudian balita terkena stunting 1 anak. Dan balita beresiko stunting sebanyak 4 anak

Laporan : Mu’min/Yan.

About The Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *