Teks Foto; Pemerintah Desa Ketapang bersama Tim TPPS Kecamatan Ketapang sukses menggelar Rembuk Stunting tahun 2024 yang dilaksanakan di kantor desa setempat, Rabu (3/7/2024).

Lintaspena.com, Lamsel – Berdasarkan grafik data laporan dari bidan desa dan kader kesehatan tentang balita stunting di Desa Ketapang, Kecamatan Ketapang, Kabupaten Lampung Selatan di tahun 2024 menurun, yakni tinggal 3 balita. Yang mana di tahun 2022 terdapat 9 balita beresiko stunting dengan persentase 3,90%. Dan di tahun 2023 masih terdapat 9 dengan persentase 1,76%.

Keberhasilan dalam penurunan stunting tersebut berkat kerjasama antara Pemerintah Desa Ketapang dengan para kader kesehatan dan bidan desa maupun stakeholder terkait.

Atas laporan resmi dari bidan desa yang disampaikan pada kegiatan Rembuk Stunting Tingkat Desa bersama Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS) Kecamatan Ketapang untuk bermusyawarah menuntaskan kasus balita stunting tersebut yang berteydi kantor desa setempat, Rabu (3/7/2024) Kepala Desa Ketapang Hamsin optimis bisa menurunkan angka stunting untuk menuju zero stunting di tahun 2025 mendatang.

“Kita apresiasi atas capaian kinerja para kader kesehatan dan bidan desa yang mana laporan data yang dipaparkan masih terdapat 3 balita yang dinyatakan stunting. Pada kesempatan ini saya meminta kepada para kader kesehatan dan bidan desa untuk terus bisa benar menuntaskan masalah ini, ” kata Kades Hamsin dalam sambutannya.

Lanjut, kata Kades Hamsin bertanya kepada bidan desa” tinggal berapa data riilnya Bu bidan? “Kata Kades Hamsin bertanya. Lalu dijawab oleh bidan desa” tinggal 3 Pak Kades. Aman ya? bu bidan” tanya Kades Hamsin kembali.

Ia mengajak seluruh elemen masyarakat, terutama kader kesehatan dan bidan desa dan TPPS tingkat desa untuk terus berupaya untuk mencegah dan mengatasi persoalan-persoalan stunting yang masih ada di Desa Ketapang, ” imbuhnya.

Menurutnya, pencegahan dini masalah stunting ini dimulai dari mencegah pernikahan dini. Kemudian pendataan dan pemeriksaan ibu-ibu hamil secara rutin. Kemudian bisa menerapkan kaji tiru K3 (kandang, kolam dan kebun) di rumah masing-masing, khususnya keluarga kategori beresiko stunting.

“Saya harapkan aksi nyata yang lebih maksimal lagi dari Tim Percepatan Penurunan Stunting Tingkat Desa Ketapang, agar 3 balita ini bisa pulih dan kembali normal. Sebagai mana yang dipaparkan oleh pak camat, ” harapnya.

Pada kesempatan tersebut, Kepala UPT Puskesmas Ketapang Zimmer Fernando Marpaung, S.Kep.,M.K.M menjelaskan dari data laporan 3 balita yang dinyatakan stunting. 1 balita berusia 4 sudah melewati masa emas. Sedangkan 2 lagi berusia 1 tahun dan 1 lagi 1 tahun enam bulan.

“Kita fokuskan penanganan pada 2 balita untuk bisa kembali normal dengan rutin pemeriksaan dan pemberian makanan tambahan. Sedangkan kasus balita berusia 4 tahun kemungkinan agak sulit, karena sudah melewati masa emas. Untuk itu upaya penanganan bersama yang diperlukan dalam penanganan kasus tersebut, ” jelasnya.

Dengan adanya rembuk stunting diharapkan, bisa menyatukan satu pemahaman yang sama untuk bisa menekan tumbuhnya angka stunting baru. Dan menambah wawasan para kader dan ibu-ibu hamil tentang pencegahan dan bahaya stunting.

Definisi tunting sendiri adalah gangguan pertumbuhan dan perkembangan anak akibat kekurangan gizi kronis dan infeksi, berulang, yang ditandai badan berada di bawah standar. Kemudian dampak kesehatannya;
– Gagal tumbuh (berat lahir rendah, kecil, pendek, kurus), hambatan perkembangan kognitif dan motoric.
– Gangguan metabolik pada saat dewasa risiko penyakit tidak menular (diabetes, obesitas, stroke, penyakit jantung, dan lain sebagainya).

Hadir dalam kegiatan rembuk stunting tersebut, Camat Ketapang Rendy Eko Supriyanto, S.STP, Kepala UPT Puskesmas Ketapang Zimmer Fernando Marpaung, S.Kep.,M.K.M, Kepala Desa Ketapang Hamsin, Korluh Dalduk dan KB, Kepala KUA, kader posyandu, kader remaja, kader KPM, TP-PKK, aparatur desa dan BPD. (Mu’min/Yan)

About The Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *