Oknum Asisten PTP N 5 Kebun Lubuk Dalam Diguga Tak Bermoral, Perlakukan Karyawan seperti Penjajahan Belanda

admin
A-AA+A++

LUBUK DALAM – LINTASPENA.COM | Oknum Asisten PT Perkebunan Nusantara V Kebun Lubuk Dalam tepatnya di lokasi AFD 5 tidak bermoral, memperlakukan karyawan seperti aturan anggota militer, seperti terlihat di video jumat, 20/10/23 apel dipimpin langsung Asisten Zeddy Maulana Rajagukguk, pukul 06.30 pagi di daerah perumahan AFD 5 Kebun Lubuk Dalam tepat di depan kantor AFD 5 dimana dalam video yang berdurasi selama 2 menit. Karyawan kebun Lubuk PTP N V ada berjumlah sekitar 15 orang dan ditambah yang berdiri didepan karyawan antara lain Asisten AFD 5 Zeddy Maulana Rajagukguk dengan bersama orang mandor panen.

Sangat terlihat di dalam video Assiten Zeddy Maulana Rajagukguk memakai jeket hitam dan mengenakan topi hitam memerintahkan mandor bersama karyawan mengangkat Tandan Buah Segar (TBS) mentah diatas kepala, sambil mengucapkan janji “kita berjanji, mulai hari ini, tidak akan pernah panen buah mentah lagi, mulai hari ini sampai seterusnya dan apabila itu terjadi, memanen buah mentah, siap terima kici-kicinya” Seraya mengikuti ucapan di video tersebut.

Setelah berjanji tidak memanen buah TBS mentah, Zeddy Maulana Rajagukguk kembali memerintahkan karyawan “klian tiarap semua ambil posisi pus up” Dengan nada lantang. Memaksa karyawan salah satu diantara karyawan ada yang kurang sehat semaksa untuk tiarap, dengan terpaksa melakukan Pus Up, sangat jelas dalam video tersebut.

Sementara Peraturan perusahaan yang telah di setujui karyawan/pekerja seandainya karyawan memanen buah mentah bersedia dikenakan saksi dengan membayar uang sebesar Rp.25.000/TBS.

Salah seorang Karyawan PTPN V AFD 5 kebun Lubuk Dalam yang tidak bersedia namanya disebut kepada awa media ini menceritakan yang telah ia alami, sejak berada dan atau bekerja di lingkungan perusahaan PTPN V khususnya di kebun lubuk dalam kabupaten siak.

“Saya memohon kepada pihak pembela pekerja seperti ; Disnakertrans Provinsi Riau, serikat pekerja, anggota DPR dan pihak kepolisian menantu kami pekerja buruh kasar ini untuk tidak diperlukan seperti binatang. Sejak Saya berada dalam kawasan perusahaan PTPN V Lubuk Dalam ini, belum Saya rasakan kemerdekaan selalu dibawah tekanan.” Ucapnya.

“Saya berharap kepada ketua serikat pekerja buruh PTP N V, Disnaker Siak, Humas PTPN V dan pihak-pihak pembela pekerja/buruh kabupaten Siak datang di PTPN V Lubuk Dalam membantu kami mendeklarasikan hak-hak dan pengayoman pekerja juga berikan saksi kepada Assisten Zeddy Maulana Rajagukguk yang telah memperlukan kami seperti penjajahan.” Ujarnya.

Dalam Butir Pancasila sila ke 2 berbunyi Kemanusiaan Yang Adil dan beradab dan sila ke 5 keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Tentu Hak Azasi Manusia (HAM) perlu di beri pemahaman kepada pejabat di PTPN V Lubuk Dalam ini, agar tenaga kerja diperlukan baik dan sopan karena nasib pekerja disini selalu diombang-ambing para penguasa di kebun ini. Tutupnya.

Ditempat terpisah media ini mengkonfirmasi Diffi Asril selaku askep PTPN V AFD 5 Lubuk dalam melalui nomor whatsapp pribadinya, tidak memberikan tanggapan dan keterangan hingga berita ini di publish. (F./Red)

Pos Terkait

Read Also

PTPN IV PalmCo: ‘Miniatur Indonesia’ di Balik Strategi Ketahanan Pangan dan Energi Nasional

PEKANBARU (LINTASPENA.COM) – Di balik deretan pohon kelapa...

Pemkab Muba Gandeng Perusahaan Sektor Energi Listrik Cetak Tenaga Kerja Berkompeten

Majukan Daerah Melalui Program Penyerapan Tenaga Kerja Lokal…

Respon (3)

  1. Saya mengatakan YA pekerja/buruh di PTPN V Lubuk dalam berada di dalam penjajahan/kerja PAKSA. Letak dimana saya menyebut kata kerja paksa di PTPN V Lubuk dalam, dalam Perjanjian kerja/PKB (Buruh/Karyawan ) bekerja di hari libur apa bila di butuhkan tidak dipaksa. Tapi yang kami alami mulai dari tahun 2020 bulan Januari, kerja di hari libur bukan lagi jika di butuhkan, melainkan DIPAKSA. apa bila buruh/karyawan tidak menuruti maka di ancam dengan kata sangsi atau surat teguran. Pimpinan/ASISTEN AFD bukan lagi tak bermoral melainkan etika, tata krama mereka gak punya. Menganggap buruh bukan manusia melainkan di perlakukan sperti binatang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *