PEKANBARU, LintasPena.com — Penantian panjang masyarakat Kota Pekanbaru selama hampir empat dekade untuk melihat pendiri kotanya mendapat gelar Pahlawan Nasional akhirnya segera terwujud. Sultan Muhammad Ali Abdul Jalil Muazzam Syah, atau yang akrab dikenal sebagai Marhum Pekan, dipastikan akan dianugerahi gelar kehormatan tersebut di Istana Negara, Jakarta, pada Selasa, 10 November 2026, bertepatan dengan peringatan Hari Pahlawan.
Wali Kota Pekanbaru, Agung Nugroho, dijadwalkan hadir langsung di Istana Negara mendampingi ahli waris dan zuriah Marhum Pekan untuk menyaksikan momen bersejarah ini. Turut mendampingi pula Ketua TP PKK Kota Pekanbaru, Sulastri Agung.
“Alhamdulillah, mimpi dan perjuangan panjang yang selama ini diikhtiarkan oleh masyarakat akhirnya berbuah manis,” ujar Agung Nugroho, Minggu (07/11/2026). “Kita tentu sangat bangga pendiri Pekanbaru mendapat kehormatan tertinggi sebagai Pahlawan Nasional. Kebahagiaan ini sepenuhnya milik warga Pekanbaru, masyarakat Siak, dan seluruh masyarakat Riau.” ujar wali kota Pekanbaru, Agung Nugroho.
Harapan untuk menetapkan Marhum Pekan sebagai Pahlawan Nasional sendiri telah mengemuka sejak tahun 1988. Perjuangan yang telah dirintis oleh para tokoh terdahulu tersebut terus dikawal dan dilanjutkan oleh Pemerintah Kota Pekanbaru di bawah kepemimpinan Agung Nugroho hingga akhirnya mendapat kepastian resmi dari pemerintah pusat. Kepastian rencana penganugerahan ini sebelumnya juga sempat dibahas dalam pertemuan antara Wali Kota Pekanbaru dan Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon.
Secara silsilah, Marhum Pekan merupakan Sultan Siak Sri Indrapura ke-V. Beliau adalah putra dari Sultan Abdul Jalil Alamuddin Syah (Marhum Bukit) yang merupakan Sultan Siak ke-IV. Marhum Pekan berjasa besar dalam melanjutkan pengembangan kawasan Senapelan yang dirintis ayahandanya, hingga wilayah tersebut tumbuh pesat menjadi pusat perdagangan makmur dan menjadi cikal bakal berdirinya Kota Pekanbaru.
Selain dikenal sebagai arsitek di balik berdirinya Pekanbaru, beliau juga dikenang dalam catatan sejarah atas keberaniannya memimpin pertempuran melawan kolonial Belanda di Pulau Guntung.
Bagi Agung Nugroho, penganugerahan ini bukan sekadar penghargaan administratif, melainkan momentum penting untuk menanamkan kembali marwah, sejarah, dan nilai-nilai kebudayaan Melayu kepada generasi muda.
“Saya sangat mencintai Pekanbaru beserta akar sejarah dan budayanya. Menjaga marwah Melayu adalah tanggung jawab moral yang saya pegang teguh dalam memimpin kota ini,” tegas Agung. Pekanbaru adalah rumah kita bersama, di mana gerak kemajuan kotanya harus seiring sejalan dengan budaya Melayu yang tetap hidup sebagai jati diri.
Sebagai bentuk penghormatan abadi, Pemerintah Kota Pekanbaru juga telah mendapat restu dari Kementerian Pekerjaan Umum untuk mengabadikan nama Sultan Muhammad Ali Abdul Jalil Muazzam Syah pada infrastruktur strategis daerah. Nama sang sultan akan disematkan sebagai nama gerbang tol dalam kota yang menghubungkan ruas Tol Pekanbaru–Dumai dengan Pekanbaru–Bangkinang. Selain itu, perubahan nama Jalan Palas menjadi nama jalan pendiri kota juga telah disetujui dan tinggal menunggu waktu peresmian.
Agung berharap pengabadian nama pada fasilitas publik ini dapat membuat masyarakat, khususnya anak muda, selalu mengingat jasa para pendahulu mereka.
“Nama beliau kami hadirkan di gerbang tol dan jalan utama agar jasanya terus abadi di hati masyarakat. Kita ingin anak-anak kita tumbuh dengan mengenal siapa pendiri kota mereka, menghargai sejarahnya, dan bangga akan budaya Melayu,” pungkasnya. (Red)









Tidak ada Respon