JAKARTA, LintasPena.com — Presiden Prabowo Subianto memimpin rapat terbatas bersama sejumlah menteri Kabinet Merah Putih di Istana Merdeka, Jakarta, guna membahas langkah strategis penguatan ketahanan energi nasional. Rapat ini digelar sebagai langkah proaktif pemerintah dalam mengantisipasi dinamika ekonomi global serta ketidakpastian geopolitik yang terus berkembang.
Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi sekaligus Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, mengungkapkan bahwa Kepala Negara secara khusus menanyakan kesiapan implementasi bahan bakar nabati jenis E20.
“Bapak Presiden menanyakan kesiapan tentang implementasi daripada E20 dalam rangka mendorong ketahanan energi kita,” ujar Bahlil usai pertemuan tersebut.
Pemerintah sendiri telah menyusun rencana strategis (renstra) pengembangan bahan bakar nabati secara komprehensif, mulai dari program bioetanol E20 hingga E50. Eksekusinya akan dilakukan melalui sinergi lintas sektor, terutama melibatkan Kementerian ESDM dan Kementerian Pertanian untuk memastikan kesiapan pasokan dari hulu hingga hilir.
“E20 sampai dengan E50 dan kami sudah menyiapkan renstranya. Ini adalah kolaborasi antara Pak Mentan (Menteri Pertanian) dengan ESDM di sektor hulu. Sementara untuk mandatori biodiesel B50 tetap kita pertahankan, karena situasi geopolitik dunia tidak pernah kita tahu ujungnya ke mana,” kata Bahlil.
Selain menggenjot energi berbasis nabati, pemerintah juga berencana membangun fasilitas penyimpanan minyak mentah (crude storage) di beberapa wilayah di Sumatra. Pembangunan infrastruktur strategis ini ditujukan untuk memperluas kapasitas cadangan minyak nasional secara bertahap guna mengamankan pasokan dalam negeri.
“Kita akan membangun storage di beberapa wilayah Sumatra. Jadi ketika kita melakukan impor crude, semuanya bisa ditampung. Saat ini kapasitasnya di atas 20 hari, dan target kita ke depan bisa mengamankan cadangan sampai dengan 60 hari,” tutur Bahlil.
Saat ini, studi kelayakan (feasibility study) untuk proyek pembangunan fasilitas penyimpanan minyak tersebut dilaporkan telah rampung dikerjakan oleh instansi berwenang. Pemerintah dijadwalkan mulai meninjau langsung lokasi pembangunan pada akhir tahun ini dengan memprioritaskan faktor keamanan dan mitigasi risiko bencana.
“Kita rancang dengan matang, jangan sampai kondisi atau lokasi tempat kita meletakkan storage itu memiliki potensi besar menjadi area bencana. Ini menyangkut aspek keselamatan bersama,” tegas Bahlil. (Red)










Tidak ada Respon