Perkuat Sinergi Regional, Pemprov Riau dan Pemko Pekanbaru Resmi Buka Seminar GCMC IMT-GT ke-9

Meni
Perkuat Sinergi Regional, Pemprov Riau dan Pemko Pekanbaru Resmi Buka Seminar GCMC IMT-GT ke-9
Plt Gubernur Riau SF Hariyanto, Wali Kota Pekanbaru Agung Nugroho, bersama para delegasi menaikkan jari membentuk simbol "L" (Lestari) pada pembukaan Seminar Internasional GCMC IMT-GT ke-9 di Hotel Pangeran, Pekanbaru, Rabu (5/8). (Foto: Istimewa)
A-AA+A++

PEKANBARU, LINTASPENA.COM — Pemerintah Provinsi Riau bersama Pemerintah Kota (Pemko) Pekanbaru secara resmi membuka agenda akbar bertajuk Seminar Green Cities Mayors Council (GCMC) Indonesia-Malaysia-Thailand Growth Triangle (IMT-GT) ke-9. Acara internasional yang berpusat di Ballroom Hotel Pangeran ini dimulai sejak Rabu (5/8/2026) dan dijadwalkan berlangsung selama beberapa hari ke depan. Pertemuan ini menjadi langkah nyata dalam memperkokoh hubungan bilateral sekaligus mempercepat implementasi konsep pembangunan kota hijau di kawasan sub-regional ASEAN.

Wali Kota Pekanbaru, Agung Nugroho, menegaskan bahwa prinsip kota hijau (green city) yang didiskusikan dalam forum ini berjalan beriringan dengan visi jangka panjang “Pekanbaru Lestari”. Menurutnya, kesuksesan pembangunan sebuah wilayah perkotaan modern tidak boleh hanya dinilai secara parsial dari kemegahan arsitektur gedung ataupun tata kawasan semata. Esensi utama dari kemajuan kota yang sesungguhnya terletak pada integritas dan komitmen penuh seluruh elemen dalam menjaga kelestarian lingkungan hidup.

Dalam pidato sambutannya, Agung Nugroho mengingatkan bahwa forum yang berlangsung selama dua hari ini memikul tanggung jawab moral yang besar bagi masa depan. Kepedulian terhadap lingkungan bukan sekadar wacana pembangunan fisik, melainkan jaminan keberlangsungan hidup bagi generasi mendatang.

“Green city sama dengan Pekanbaru Lestari. Tema yang kita bawa mengingatkan kita bahwa kepedulian terhadap lingkungan bukan hanya tentang gedung-gedung, tetapi juga menjaga alam, karena menjaga alam adalah menjaga masa depan anak-anak kita,” tegas Agung.

Lebih lanjut, Wali Kota Pekanbaru menyoroti tantangan ekologis global yang saat ini kian mengkhawatirkan dan memerlukan perhatian serta tindakan medis lingkungan yang cepat. Ia menggarisbawahi maraknya fenomena alih fungsi lahan alami, termasuk wilayah pesisir, laut, serta aliran sungai yang mulai tergerus demi kepentingan ekspansi infrastruktur komersial. Kondisi ini dinilai memicu ketidakseimbangan ekosistem yang jika dibiarkan akan menjadi bumerang bagi kehidupan perkotaan itu sendiri.

Menyikapi ancaman tersebut, Agung Nugroho mengajak seluruh delegasi mancanegara dan pemangku kebijakan lokal untuk mengedepankan prinsip keharmonisan dengan alam. Hubungan timbal balik yang positif antara aktivitas pembangunan dan kelestarian ekologi harus dijaga agar terhindar dari bencana hidrometeorologi.

“Hari demi hari kawasan sungai, hutan, dan laut bahkan sudah dibangun gedung. Dalam kesempatan hari ini, mari bersama menjaga lingkungan alam dan melestarikan kehidupan kita. Saat kita memuliakan alam, maka alam yang kita tempati juga akan memuliakan kita,” ungkapnya.

Di samping itu, Agung menambahkan bahwa GCMC IMT-GT ke-9 merupakan instrumen atau wadah krusial untuk mentransfer ilmu pengetahuan serta membagikan best practices (praktik terbaik). Seluruh rangkaian sesi seminar dirancang interaktif dengan menghadirkan para ahli, praktisi, dan tokoh dunia yang memiliki rekam jejak mumpuni di bidang pelestarian alam. Melalui diskusi mendalam ini, diharapkan lahir formula kebijakan baru yang aplikatif bagi pengelolaan sampah sirkular dan tata ruang hijau.

Pada kesempatan yang sama, Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Riau, SF Hariyanto, menyampaikan apresiasi tertinggi atas antusiasme para delegasi dari Indonesia, Malaysia, dan Thailand yang telah hadir di Pekanbaru.

SF Hariyanto menekankan bahwa isu lingkungan dan krisis iklim global saat ini telah berkembang menjadi tantangan yang sangat kompleks. Oleh sebab itu, penyelesaian masalah tersebut tidak bisa lagi dilakukan secara parsial oleh satu negara saja, melainkan butuh keterikatan kerja sama lintas batas yang solid.

Plt Gubernur Riau menjabarkan pandangannya mengenai kondisi geografis tiga negara anggota IMT-GT yang berada dalam satu klaster kawasan terhubung. Dampak dari kerusakan alam di satu titik dipastikan akan merembet ke wilayah tetangga karena pergerakan atmosfer tidak dibatasi oleh sekat-sekat administrasi negara.

“Kita berkumpul untuk memperkuat kerja sama IMT-GT dalam menjaga lingkungan bersama, Indonesia, Malaysia, Thailand berada dalam satu kawasan yang saling terhubung. Udara tidak mengenal batas negara. Persoalan dari satu wilayah akan berdampak pada wilayah lainnya,” urai SF Hariyanto.

Guna menjawab tantangan tersebut, Pemerintah Provinsi Riau dilaporkan terus bergerak cepat dalam mengeksekusi berbagai program strategis guna menekan dampak perubahan iklim. Riau berkomitmen penuh mengurangi produksi emisi gas rumah kaca (GRK) secara berkala dan masif. Beberapa langkah taktis yang telah berjalan mencakup tata kelola pemanfaatan limbah domestik dan sampah perkotaan untuk dikonversi langsung menjadi pasokan energi listrik yang ramah lingkungan.

Selain fokus pada sektor energi, Pemprov Riau juga mengintensifkan mitigasi dini terkait bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Penanggulangan karhutla di Riau kini mengedepankan kombinasi operasi darat, pengawasan udara, teknologi modifikasi cuaca (TMC), serta penguatan peran aktif masyarakat peduli api. Sinergi seluruh instansi ini terbukti efektif dalam meminimalkan sebaran titik panas (hotspot) selama musim kemarau di wilayah gambut.

Langkah visioner lainnya yang dipaparkan SF Hariyanto adalah persiapan Riau dalam memasuki pasar perdagangan karbon internasional lewat inisiasi program unggulan “Green for Riau”. Pemprov Riau kini tengah mematangkan penguatan tata kelola, mekanisme pengukuran (measurement), serta validasi penurunan emisi secara ketat. Skema ini dirancang agar perlindungan terhadap hutan gambut yang tersisa mampu menghasilkan insentif finansial dan menjadi sumber pendapatan baru bagi kesejahteraan masyarakat adat setempat.

Mengakhiri pidatonya, Plt Gubernur Riau berharap agar pertemuan GCMC IMT-GT ke-9 ini mampu melahirkan kesepakatan-kesepakatan konkret dan dokumen kerja sama yang berdampak luas. Pekanbaru ditargetkan menjadi episentrum lahirnya kebijakan tata kota rendah emisi bagi sub-regional ASEAN.

“Semakin baik kita melindungi hutan, semakin sedikit kebakaran, semakin rendah emisi, dan semakin besar manfaat ekonomi yang dihasilkan. Kami berharap Pekanbaru tidak hanya dikenang sebagai tempat berlangsungnya pertemuan ini, tetapi juga sebagai tempat lahirnya kerja sama rendah karbon bagi kawasan Indonesia, Malaysia, Thailand,” pungkas SF Hariyanto. (fn)

Pos Terkait

Read Also

Sukses Transformasi Digital, Pemprov Riau Tembus Lima Besar Nasional ADLG Awards 2026

JAKARTA – LINTASPENA.COM – Pemerintah Provinsi Riau sukses...

Pemprov Riau Tegaskan Pertumbuhan Ekonomi Harus Berdampak Nyata pada Kesejahteraan Masyarakat

PEKANBARU, LINTASPENA.COM — Pemerintah Provinsi (Pemprov) Riau menegaskan...

Dinas pendidikan Kabupaten Bekasi

Tidak ada Respon

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar disini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *