PEKANBARU, LINASPENA.COM — Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Riau, SF Hariyanto, secara resmi membuka rangkaian agenda Festival Literasi Riau 2026. Acara tersebut dipusatkan di Gedung Perpustakaan Soeman HS, Kota Pekanbaru, pada Rabu (5/8/26). Pergelaran festival edukasi ini sekaligus menjadi bagian dari rangkaian perayaan memperingati Hari Jadi ke-69 Provinsi Riau, serta momentum krusial untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) daerah.
Dalam pidato arahannya, SF Hariyanto menegaskan bahwa esensi literasi di era modern harus mampu membentuk karakter masyarakat yang bijak, adaptif, serta cermat dalam menyaring arus informasi di lini digital. Kecakapan kognitif dalam membedakan fakta otentik dan opini publik dinilai sangat penting bagi generasi muda. Langkah preventif ini diperlukan agar masyarakat terhindar dari ancaman siber seperti penyebaran berita bohong (hoax) serta kejahatan penipuan digital.
Pemerintah Provinsi Riau mengumumkan bahwa berdasarkan basis data pengukuran pada tahun 2025, angka indeks tingkat kegemaran membaca masyarakat Bumi Lancang Kuning saat ini berada pada posisi 58,59 persen. Indikator makro tersebut terus didorong secara masif oleh pemerintah daerah agar mampu mengejar target strategis yang tertuang dalam dokumen Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD), yakni mencapai angka target sebesar 73 persen pada tahun 2029 mendatang.
“Berdasarkan pengukuran tahun 2025, tingkat kegemaran membaca masyarakat Riau berada pada angka 58,59 persen. Sementara dalam RPJMD Provinsi Riau, kita telah menetapkan target sebesar 73 persen pada tahun 2029. Angka ini menjadi dasar bagi kita untuk memperkuat langkah bersama,” tutur SF Hariyanto di hadapan para undangan dan pegiat literasi.
Guna merealisasikan target lompatan indeks tersebut, Plt Gubernur Riau menginstruksikan jajaran Dinas Pendidikan beserta para guru untuk merevitalisasi dan menghidupkan kembali fungsi optimal perpustakaan di tiap satuan pendidikan. Budaya membaca harus diinternalisasikan menjadi sebuah kebiasaan harian (habitus) yang konsisten. Pola tersebut wajib diinisiasi sejak dini mulai dari lingkungan terkecil keluarga hingga diperkuat secara formal pada lembaga pendidikan.
SF Hariyanto memaparkan ada dua poin prioritas yang harus dikawal bersama oleh seluruh pemangku kepentingan. “Pertama, membaca harus menjadi kebiasaan sehari-hari. Dimulai dari rumah, diperkuat di sekolah. Sekolah harus menjadi tempat tumbuhnya kebiasaan membaca. Kedua, literasi harus membentuk masyarakat yang cermat dalam menerima informasi. Saya berharap Dinas Pendidikan, para kepala sekolah, dan guru bersama-sama menghidupkan perpustakaan sekolah,” tegasnya.
Di hadapan publik, jajaran Pemprov Riau turut menyampaikan apresiasi serta penghargaan setinggi-tingginya atas dukungan berkelanjutan dari Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas RI). Kerja sama kemitraan di antara kedua belah pihak dipastikan akan terus diperluas kedepannya. Sinergi ini akan mencakup program digitalisasi perpustakaan daerah, sertifikasi peningkatan kompetensi para pustakawan, hingga proyek penyelamatan dan pelestarian naskah kuno Melayu Riau.
Menurut pandangan Plt Gubri, penetrasi informasi pada masa kini bertransmisi sangat cepat langsung ke gawai serta platform media sosial masyarakat. Konsekuensinya, anak-anak tidak boleh hanya sekadar mampu membaca teks secara mekanis, melainkan dituntut kritis dalam menelusuri akurasi sumber. Kemampuan menyaring informasi ini akan menjadi pelindung utama yang menjaga masa depan generasi muda dari paparan pengaruh negatif siber yang merugikan.
“Kecakapan seperti inilah yang akan melindungi generasi muda kita dari berita bohong, penipuan digital, dan berbagai pengaruh yang merugikan masa depan mereka,” tambah SF Hariyanto mengakhiri sambutannya.
Sementara itu, Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Riau, Indra, menjabarkan secara teknis bahwa Festival Literasi Riau 2026 ini akan berlangsung secara simultan selama tiga hari ke depan. Pihaknya menyediakan berbagai pilihan agenda edukatif yang menarik minat masyarakat umum, mulai dari sesi gelar wicara (talkshow) literasi, bedah buku karya penulis lokal, pameran aksi seni budaya, hingga ruang mendongeng ceria bagi anak-anak usia dini.
Indra mengungkapkan tantangan berat merawat minat baca di tengah gempuran teknologi, namun festival ini menjadi benteng mempertahankan budaya tersebut. Ia turut mengonfirmasi bahwa seluruh operasional kegiatan ini tidak menggunakan anggaran belanja daerah. “Kami menegaskan bahwa seluruh pembiayaan Festival Literasi Riau 2026 tidak bersumber dari APBD melainkan memanfaatkan Dana Alokasi Khusus (DAK) Perpustakaan Nasional,” jelas Indra.
Terlepas dari tantangan eksternal digitalisasi, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Riau justru mencatat adanya tren positif berupa lonjakan kunjungan fisik ke Perpustakaan Soeman HS. Berdasarkan tabulasi data statistik internal, kuantitas kunjungan merangkak naik secara signifikan. Tercatat pada tahun 2024 jumlah kunjungan berada di angka 219 ribu orang, dan melesat tajam menyentuh angka 303 ribu kunjungan sepanjang kalender tahun 2025.
Berdasarkan analisis demografi pengunjung, mayoritas aktivitas pemanfaatan fasilitas literasi didominasi oleh kelompok pelajar serta mahasiswa yang memadati ruangan terutama pada momen akhir pekan (weekend). Para siswa tersebut datang secara berkelompok tidak hanya dari wilayah administratif Kota Pekanbaru, melainkan juga datang jauh dari berbagai kabupaten tetangga di wilayah Provinsi Riau.
Peningkatan grafik kunjungan tersebut diimbangi dengan ketersediaan fasilitas penunjang berupa ekspansi koleksi bahan pustaka yang dikelola oleh manajemen Perpustakaan Soeman HS. Berdasarkan inventarisasi data hingga bulan Desember tahun 2025, total koleksi buku yang terregistrasi telah berhasil menembus angka 70.946 judul buku, dengan ketersediaan total fisik buku di rak penyimpanan mencapai sebanyak 324.632 eksemplar. (Dz)










Tidak ada Respon