Tanggamus, Lintaspena.com – Diminta Dinas Ketahanan Pangan Tanaman pangan Holtikultura (KPTPH) Kabupaten Tanggamus, untuk ikut pelatihan dalam pengembangan pupuk organik mewakili Kabupaten Tanggamus, salah satu Ketua Kelompok tani sebut, ternyata itu bukan pelatihan melainkan kegiatan asesmen, peserta yang jadi pembicara.

Pasalnya kegiatan asesmen tersebut, peserta diminta untuk menerangkan tatacara dalam pembuatan pupuk organik hingga ke proses bahan yang di gunakan, dalam pembuatan sampai zat yang terkandung dari masing masing bahan baku dan jenis jenis bahan yang di gunakan dalam proses pembuatan pupuk organik baik pupuk cair maupun pupuk organik padat.

ST saat berbincang bincang dengan awak media dutapublik ia mengatakan, pada saat itu kami di minta untuk ikut pelatihan di Balai Latihan Penyuluh Pertanian (BLPP) Lampung saya kira kita itu mau dilatih tatacara pembuatan pupuk organik mengingat selama ini kita tidak ada bimbingan dari Dinas terkait maka nya dengan adanya kegiatan tersebut saya pribadi sangat senang dan semangat untuk ikut dengan harapan mendapatkan pengalaman baru, karena ada bimbingan dari pemerintah, terlebih dalam kegiatan tersebut ada 4 Provinsi yang mengikuti kegiatan, kita mewakili Provinsi Lampung khususnya Kabupaten Tanggamus.

Namun yang membuat kami sempat shock setelah kita tau kalau kegiatan itu bukan pelatihan melainkan kegiatan asesmen, artinya kalau asesmen sama hal nya kita itu ikut ujian, karena kita dapat nilai dan kita juga bersaing dengan peserta dari Provinsi tetangga coba bayangkan berangkat dengan pengalaman yang minim, karena sudah masuk arena kompetisi siap tidak siap kita harus siap apa pun hasilnya, karena memang benar selama ini kita itu tidak ada yang nama nya dapat bimbingan dari Dinas KPTPH.

“Kita patut bersyukur dengan modal seadanya tampa ada pembekalan yang cukup kita pulang bisa bawa sertifikat pengakuan dari pemerintah Provinsi itu sudah sangat luar biasa, ada kepuasan tersendiri dari diri kita pribadi, adapun hal itu mau di akui oleh dinas itu hak mereka toh selama ini kita memang tak pernah dapat apa apa dari dinas, kalau pun ada program dari dinas yang sifatnya bantuan itu juga tidak gratis, makanya saya gak pernah mengajukan bantuan,” bebernya pada Minggu (17/3/2024).

Masih kata ST udah hal yang lumrah kalau yang memberi janji itu lupa dengan apa yang pernah ia utarakan, akan tetapi orang yang mendapat kan janji itu gak bakal pernah lupa, karena suatu saat itu akan di tanyakan, toh nanti nya yang memberikan janji itu udah tak mengakui kalau ia pernah menyampaikan itu udah soal lain, coba kalau janji mereka itu ditepati pasti cerita mereka sampai ke mana mana.

Yang jelas dekat sama dinas itu gak ada untung nya bagi kita yang ada kita rugi, rugi materil rugi waktu itu pengalaman kita selama ini kita itu jadi korban, contoh sekarang kita tanam melon misal melon itu ada kutu atau hama kemudian kita minta solusi bagaimana cara untuk mengatasi hama tersebut itu gak bakal dinas itu bisa ngasih kita solusi yang ada malah mereka yang bertanya sama kita, itukan aneh mereka pegawai dari dinas terkait sedangkan kita ini cuma petani ulung.

Kemudian ada lagi misal tanaman kita bagus lalu ada dinas yang datang  ke sini melihat tanaman kita bagus karena pakai pupuk organik apa yang di lakukan oleh mereka yang ada mereka malah foto foto ambil video kemudian mereka pergi dan datang lagi kalau kita panen, karena hasil nya bagus menggunakan pupuk organik itu justru jadi bahan mereka untuk membuat laporan yang seolah olah kita ini petani menggunakan pupuk organik binaan mereka.

Karena mereka datang ke tempat kita lagi panen ya gak mungkin juga kita gak ngasih mereka untuk oleh oleh, artinya kita lagi yang kena, makanya saya nilai kita ini hanya di jadikan objek buat mereka, mana pernah saya minta bantuan sama dinas atas program program mereka karena program itu gak ada yang gratis pasti ada nominal, belum lama ini saya di tawarin bantuan mesin tapi saya tolak,” imbuhnya.

Tambah ST sekarang terkait dampak dari kemarau panjang el nino, saat itu saya masih menyemprot padi tiba tiba ada orang dinas datang saya nyemprot itu di video in sama mereka karena tanaman  padi masih bagus walaupun kemarau, karena mereka tau kalau kita itu tidak pernah pakai obat kimia semua tanaman kita menggunakan pupuk organik, dalam batin saya, pret pret itu lah cara cara mereka membuat bahan kalau kita itu memang petani binaan mereka.

Intinya memang selama ini kita tidak pernah ada bimbingan pembinaan dari dinas pupuk organik yang kita buat itu murni hasil racikan kita sendiri dan bahan nya pun banyak di sekitar kita, jangan mau membina kita memperhatikan kita pun tidak yang ada justru kita yang di jadikan objek mereka bahan mereka seolah olah kita itu memang benar binaan mereka, contoh kecil aja kita minta bibit semangka gak bakalan ada walaupun harga nya cuma Rp 70 ribu rupiah apa lagi kita minta bibit melon yang harga nya di atas Rp 100 ribu tapi kalau kita minta bibit Kangkung Bayan dan sawi itu mudah mudahan ada karena murah,” pungkasnya.(Heru).

About The Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Verified by MonsterInsights