Dukung Ketahanan Pangan Nasional, Lapas Perempuan Pekanbaru Panen Pakcoy Hasil Karya Warga Binaan

Meni
Dukung Ketahanan Pangan Nasional, Lapas Perempuan Pekanbaru Panen Pakcoy Hasil Karya Warga Binaan
Jajaran petugas Lapas Perempuan Kelas IIA Pekanbaru bersama Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) menunjukkan hasil panen sayur Pakcoy di area pertanian Lapas, Rabu 1/4/26. (Foto: Dok Sf)
A-AA+A++

PEKANBARU, LintasPena.com – Lapas Perempuan Kelas IIA Pekanbaru kembali menunjukkan keberhasilan program pembinaan kemandiriannya. Pada Rabu (01/04/2026), jajaran petugas bersama Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) melaksanakan panen raya sayur Pakcoy di area lahan pertanian produktif milik Lapas.

Kegiatan panen yang berlangsung penuh semangat ini dipimpin langsung oleh Kepala Seksi Kegiatan Kerja (Kasi Giatja) beserta jajaran. Hijau segar sayuran Pakcoy yang dipanen menjadi bukti nyata bahwa keterbatasan jeruji besi bukan penghalang bagi warga binaan untuk tetap produktif dan berkontribusi bagi negara.

Aksi panen ini bukan sekadar rutinitas pertanian biasa, melainkan bentuk dukungan konkret terhadap program prioritas nasional dalam kerangka Asta Cita Presiden Republik Indonesia. Fokus utamanya adalah peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM), kemandirian ekonomi, serta penguatan ketahanan pangan nasional dari sektor pemasyarakatan.

“Kegiatan ini adalah wujud komitmen kami dalam menjalankan fungsi pembinaan yang produktif. Kami ingin warga binaan memiliki keahlian nyata yang bermanfaat saat mereka kembali ke masyarakat nanti,” ujar Kasi Giatja di sela-sela kegiatan panen.

Langkah produktif ini juga berjalan selaras dengan 13 Program Akselerasi Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan. Program tersebut menekankan pada transformasi pemasyarakatan yang lebih humanis, berdaya guna, dan berorientasi pada kemandirian melalui penguatan pembinaan kerja.

Dengan keberhasilan panen ini, Lapas Perempuan Kelas IIA Pekanbaru membuktikan komitmennya untuk terus berinovasi dan berbenah. Melalui sektor pertanian, Lapas tidak hanya menjadi tempat pembinaan hukum, tetapi juga inkubator kemandirian yang adaptif terhadap kebijakan pemerintah dan kebutuhan pangan daerah.

Diharapkan, hasil pertanian dari tangan-tangan warga binaan ini dapat terus dikembangkan secara berkelanjutan, sekaligus menginspirasi masyarakat luas bahwa setiap individu memiliki potensi untuk berkontribusi bagi kemajuan bangsa.