Tanam Bawang Merah di Lamsel, Petani Asal Brebes Beri Manfaat Masyarakat Lokal

admin
A-AA+A++

Lintaspena.com, Lamsel – Andi Rismanto (28) petani bawang merah asal Kabupaten Brebes, Jawa Tengah bersama keluarga besarnya menanam bawang merah di Desa Ruguk dan Desa Legundi Kecamatan Ketapang Kabupaten Lampung Selatan, memberikan manfaat bagi masyarakat lokal untuk menambah pendapatan perekonomian keluarga.

Adapun manfaat yang dirasakan oleh masyarakat setempat yakni dari mulai menanam dan panen memberdayakan masyarakat sekitar lingkungan Desa Ruguk. Sehingga para ibu-ibu dapat penghasilan tambahan untuk kebutuhan keluarga.

Hal tersebut dikatakan oleh Andi Rismanto kepada media Lintas pena.com, Lamsel saat lagi panen bawang merah di Dusun Kayu Lana Desa Ruguk Kecamatan Ketapang bersama para masyarakat setempat yang sedang bekerja memotong batangnya dari umbi bawangnya, Selasa (28/08/2023) sore.

“Kita dari mulai menanam sampai panen selalu melibatkan masyarakat disini, Bang. Itu sejak dari almarhum ayah saya, yakni Nardi (57) dan hubungan dengan masyarakat sangat baik. Disini kita usaha bertani bawang merah dengan luas lahan kurang lebih 1 hektar untuk dua lokasi. Yang agak luas di Desa Ruguk ini, sedangkan untuk lokasi satunya di Desa Legundi dengan luas lahan 1/4 hektar , ” kata Andi.

Ia menjelaskan saat panen raya masyarakat memotong batangnya untuk memisahkan umbi bawangnya dengan sistem perkilo. Untuk perkilo kita bayar seribu rupiah. Sehari para ibu-ibu bisa dapat 2 karung atau 1 kwintal lebih, tergantung orangnya. Dan ketika musim tanam, sistem bayar harian lepas.

“Untuk penjualan sendiri, pasar lokal saja kurang. Kadang-kadang kita ambil dari Brebes daerah penghasil bawang merah terbesar di Indonesia. Bibit tanam bawang ini saja, kita ambil dari Brebes langsung. Namun saat ini, harga lagi kurang baik untuk petani bawang merah, ” Ucapnya.

Ia mengharapkan turun tangan pemerintah dalam menstabilkan harga. Sehingga para petani tidak rugi. Karena bercocok tanam bawang merah memerlukan biaya sangat tinggi dalam penyiapan maupun pemeliharaannya.

“Harga saat ini dari petani hanya Rp.20 ribu/kg. Tentu dengan harga tersebut jauh dari untung. Sebab biayanya penyiapan, pemeliharaan sampai pupuknya sangat mahal. Lahan 1/4 hektar menghabiskan Rp. 50 juta. Tetapi kalau harga kisaran diatas Rp. 30 sampai Rp. 40 ribu/kg baru petani bahagia dan bisa mendapatkan berkahnya, ” jelasnya.

Ditanya soal kesediaannya menularkan ilmu bercocok tanam bawang merah bagi kelompok petani lokal, dirinya mengatakan siap. Dengan catatan, asal pekerjaan bercocok tanamnya sudah selesai.

“Kita siap membimbing para kelompok tani lokal sini, jika berminat. Namun asal jangan benturan waktu musim tanam dan panen kembali. Insya Allah kita bagi tips-tipsnya dan ilmunya, ” Urai Andi Rismanto.

Sementara salah satu warga Desa Ruguk, Ida Laela (30) yang ikut bekerja memotong batang bawang tersebut mengatakan, sangat senang dengan adanya petani bawang di wilayahnya. Pasalnya ibu-ibu dapat penghasilan dan bisa menutupi kebutuhan keluarga.

“Ya, kita senang dan merasa terbantu dengan adanya petani bawang merah yang bercocok tanam di Desa Ruguk ini. Dari mulai tanam hingga panen, kita selalu diajak untuk bekerja sejak bapaknya Mas Andi masih hidup, kita sudah diberdayakan. Dan hubungan dengan masyarakat lokal, sangat baik, ” tutur Ida Laila.

Dikesempatan tersebut pemborong atau masyarakat umum menyebutnya para bakul, Puspa warga Jagaloka Desa Sumur Kecamatan Ketapang saat membeli bawang merah yang sudah siap didistribusikan mengatakan dirinya langganan tetap setiap panen mengambil bawang untuk di jual kembali di pasar Bakauheni.

“Kita langganan tetap mas. Setiap panen kita beli untuk kita jual kembali di pasar Bakauheni. Karena kita adalah jual beli hasil pertanian. Bukan hanya bawang merah, cabe dan tomat pun kita beli untuk dijual kembali, ” pungkasnya. (Idham)

Pos Terkait

Tidak ada Respon

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar disini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *