Lintaspena.com, Lamsel – Pemerintahan Desa Pematang Pasir, Kecamatan Ketapang, Kabupaten Lampung Selatan dibawah pimpinan Kepala Desa Darto Warsono mengikuti event tahunan bertajuk Ketapang Fair 2024 tonjolkan nuansa alam dan untuk stand Desa Pematang Pasir sangat lega (luas).
Posisi stand Desa Pematang Pasir nomor 2 di sebelah kanan panggung utama dengan luas stand 6 x 12 meter. Gapura menggunakan siger dan sisi kanan kiri diapit dengan gazebo minimalis yang terbuat dari bahan bambu dan beratapkan alang-alang. Ditambah hiasan bunga-bunga di depan stand serta diatas stand ditambah dengan anyaman daun kelapa sebagai pendopo stand.
Kemudian meja pajang produk UMKM hingga hiasan asli menggunakan menggunakan bambu, ranting pohon dan kayu yang diplitur/pernis sehingga mengkilat. Penggunaan bambu dan ranting kayu mempunyai makna mendalam.
Kepala Desa Pematang Pasir Darto Warsono menceritakan stand desanya menggunakan konsep alam. Adapun filosofi bambu memiliki makna yang berkaitan dengan kehidupan dan pemerintahannya.
“Stand Desa Pematang Pasir pada Gebyar UMKM dengan tema Gerak Bersatu Galakkan Ekonomi Kerakyatan Bersama Pengusaha, Pemerintah dan UMKM” Adapun makna memakai bambu di stand desa, karena bambu adalah tanaman yang memiliki daya tahan yang kuat dan fleksibel, bahkan di bawah tekanan dan berat sekalipun.
Berikut beberapa makna filosofis bambu yang dapat kita terapkan dalam kehidupan :
1. Kelenturan dan ketahanan. Bambu memiliki kemampuan untuk melentur dan beradaptasi dengan lingkungannya, namun tetap kuat dan tahan lama.
Makna filosofisnya adalah bahwa dalam memimpin desa, selaku Kades wajib bersikap fleksibel (tidak kaku) dalam segala bidang dan adaptif dalam menghadapi perubahan dan tantangan yang dihadapi.
2. Rendah Hati
Bambu tumbuh dengan rendah hati, namun memiliki daya tahan yang kuat. Makna filosofisnya dalam menjalankan tugas sebagai pemimpin di tingkat desa selalu rendah hati namun kuat dari isu-isu tak sedap.
3. Keseimbangan
Bambu memiliki akar yang kuat dan dalam namun tetap menjaga keseimbangan tubuhnya. Makna filosofisnya dalam memimpin pro dan kontra pasti ada sebagai penyeimbang. Namun bisa disikapi dengan bijak.
4. Kemandirian
Bambu adalah tanaman yang mandiri dan dapat tumbuh dengan sendirinya. Makna filosofisnya dalam memimpin untuk kemajuan desa, Kades siap berkorban untuk warganya dan tampa bantuan orang lain.
5. Keindahan
Bambu memiliki keindahan yang sederhana namun elegan. Makna filosofisnya dalam berkehidupan, kita harus menghargai keindahan dalam segala hal.
Dalam hal ini adalah menghargai keindahan dalam diri sendiri, orang lain, lingkungan serta alam sekitar kita.
“Kita dapat memetik pelajaran dari filosofi bambu dalam menjalankan kehidupan kita. Intinya, seorang pemimpin tetap rendah hati, bijaksana, rela berkorban dan fleksibel dalam menghadapi perubahan,” terang Kades Darto Warsono.
Kemudian filosofi dari keberadaan ranting pohon :
1. Tampa ranting, maka pohon sulit berkembang.
Keberadaan ranting menjadi satu bagian yang sangat penting bagi pohon. Satu sama lain seolah saling membutuhkan, sehingga tidak bisa menghilangkan salah satu diantaranya.
Hal tersebut seolah bisa menjadi representasi bagi keberadaan manusia yang sama-sama saling membutuhkan satu sama lainnya. Tampa bantuan orang lain, maka manusia tidak bisa menjalani aktivitasnya dengan baik, begitu pun sebaliknya.
2. Ranting pohon membawa kehidupan baru
Ranting pohon menjadi tempat di mana daun, bunga, dan buah tumbuh. Hal ini menjadi tanda bahwa sebetulnya ranting pohon membawa kehidupan baru dalam ekosistem.
Melalui hal ini, maka kita dapat memetik satu filosofi penting dari keberadaan ranting pohon. Filosofi tersebut adalah tentang bagaimana cara kita dalam membuka kesempatan baru bagi orang lain melalui beragam hal positif. Dengan begitu, akan ada banyak orang yang merasa diuntungkan dengan keberadaan kita.
3. Ranting tetap bertahan di tengah cuaca yang ekstrem
Jika pada beberapa cuaca ekstrem seperti musim dingin, maka kamu dapat melihat bahwa banyak pohon kehilangan daunnya. Justru hanya akan tersisa batang pohon dengan ranting-ranting yang ada di sekitarnya. Hal tersebut membuktikan bahwa ranting sebetulnya cukup kokoh di tengah cuaca ekstrem.
Sama halnya dengan keberadaan ranting, kita tentunya dapat mengambil hikmah untuk tetap kokoh bertahan dalam situasi yang sulit. Walau sulit, namun nantinya akan ada hikmah berharga yang dapat kamu peroleh. Sama halnya seperti daun-daun di ranting yang akan tumbuh kembali di musim semi.
4. Ranting pohon tidak serapuh kelihatannya
Sekilas mungkin kita melihat bahwa ranting pohon tampak rapuh dan mudah patah. Padahal kenyataannya tak demikian, karena ranting pohon bahkan dapat menahan beban dari buah-buah yang tumbuh.
Dari hal ini, maka kita jadi paham bahwa segala hal yang dianggap sepele, belum tentu sepele. Bahkan dengan penampilan yang terlihat tidak kokoh, semestinya bisa membuktikan kemampuannya dalam melewati banyak rintangan dan tantangan.
5. Membawa banyak manfaat
Ranting pohon ternyata bukan hanya bermanfaat bagi pohon itu sendiri. Namun, keberadaan ranting pohon juga membawa manfaat bagi orang-orang yang ada di sekitarnya. Sebut saja dengan memanfaatkan ranting pohon untuk keperluan kayu bakar atau hal-hal lainnya.
Kita jadi paham, bahwa memberikan manfaat bagi orang-orang di sekitar itu sangatlah penting. Oleh sebab itu, teruslah berusaha untuk menebar kebaikan dan manfaat bagi orang-orang di sekitar kita.
Ternyata memang keberadaan ranting membawa banyak filosofi pentingnya tersendiri. Hal ini membuktikan bahwa melalui sesuatu yang sederhana, tetap ada pesan moral di dalamnya, ” pungkasnya. (Mu’min/Yan)









Tidak ada Respon