Ekspor Riau Awal 2026, CPO Jadi Penopang Utama di Tengah Merosotnya Sektor Migas

Meni
Ekspor Riau Awal 2026, CPO Jadi Penopang Utama di Tengah Merosotnya Sektor Migas
Ilustrasi
A-AA+A++

PEKANBARU, LintasPena.com – Sektor nonmigas, khususnya komoditas lemak dan minyak hewan/nabati (CPO dan turunannya), sukses menjadi penyelamat kinerja ekspor Provinsi Riau pada awal tahun 2026. Meski sektor migas mengalami tekanan hebat, performa ekspor Riau secara keseluruhan tetap menunjukkan tren positif.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Riau, nilai ekspor periode Januari-Februari 2026 menembus angka US$3,69 miliar. Angka ini mencatatkan kenaikan sebesar 10,31 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya.

Kepala BPS Riau, Asep Riyadi, mengungkapkan bahwa lonjakan ini didorong kuat oleh ekspor nonmigas yang mencapai US$3,60 miliar, atau naik signifikan sebesar 16,10 persen.

Komoditas lemak dan minyak nabati menjadi bintang utama dengan pertumbuhan tertinggi. “Peningkatannya mencapai US$592,02 juta atau naik 34,63 persen,” ujar Asep, Selasa (14/4/2026). Secara total, komoditas ini menyumbang 63,92 persen dari seluruh ekspor nonmigas Riau dengan nilai US$2,30 miliar.

Namun, tidak semua sektor menguat. Industri bubur kayu (pulp) justru mengalami penurunan terdalam sebesar US$92,01 juta (27,57 persen). Penurunan juga terjadi pada produk kertas, karton, serta buah-buahan.

Kontras dengan kejayaan CPO, sektor migas Riau justru terpuruk. Pada Februari 2026, ekspor migas anjlok hingga 80,01 persen dibandingkan Februari tahun lalu. Secara kumulatif (Januari-Februari), ekspor migas hanya meraup US$87,29 juta, turun 63,92 persen akibat merosotnya pengolahan minyak dan minyak mentah.

Tiongkok masih menjadi mitra dagang utama Riau dengan nilai ekspor US$578,79 juta, disusul oleh India (US$466,24 juta) dan Malaysia (US$270,55 juta). Ketiga negara ini menyumbang lebih dari sepertiga total ekspor nonmigas Riau.

“Ekspor hasil industri pengolahan secara umum naik 16,73 persen, sementara hasil pertanian justru turun 15,61 persen dibanding periode yang sama tahun lalu,” pungkas Asep.

Secara keseluruhan, ketergantungan Riau pada produk turunan kelapa sawit terbukti menjadi bantalan ekonomi yang kuat di tengah fluktuasi komoditas global dan penurunan produksi migas di awal tahun ini.

Pos Terkait

Read Also

Sinergi Perkuat Data, Bupati Kampar Ahmad Yuzar Terima Audiensi Kepala BPS Riau

KAMPAR, LintasPena.com – Dalam upaya memperkuat akurasi data...

Riau Alami Inflasi 3,65 Persen di Maret 2026, Perawatan Pribadi Jadi Pemicu Utama

PEKANBARU, LintasPena.com – Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi...

Tidak ada Respon

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar disini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *