PEKANBARU, LintasPena.com – Pembangunan infrastruktur jalan daerah di Provinsi Riau terus menunjukkan tren positif. Saat ini, paket pekerjaan Inpres Jalan Daerah (IJD) yang menghubungkan Pinang Sebatang Barat menuju Muara Kelantan di Kabupaten Siak Sri Indrapura telah memasuki tahapan krusial dengan realisasi fisik mencapai 42,9 persen.
Proyek yang berada di bawah naungan Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) Riau ini dibiayai melalui skema Tahun Anggaran (TA) 2025-2026. Fokus utama pekerjaan ini adalah untuk meningkatkan standar pelayanan jalan agar mampu mendukung mobilitas logistik dan aktivitas masyarakat di wilayah penyangga perkebunan tersebut.
Kepala Satuan Kerja (Kasatker) Pelaksanaan Jalan Nasional (PJN) Wilayah 2 Riau, Hendra Syahputra, ST., MT., menyatakan bahwa capaian 42,9 persen ini merupakan hasil dari koordinasi yang intensif di lapangan serta manajemen waktu yang efektif. Ia menekankan bahwa proyek ini merupakan bagian dari komitmen pemerintah pusat untuk menutup celah ketimpangan infrastruktur antara jalan nasional dan jalan daerah.
“Kami terus mendorong agar setiap tahapan pengerjaan dilakukan secara paralel tanpa mengabaikan aspek kualitas. Realisasi sebesar 42,9 persen hingga saat ini menunjukkan bahwa progres pekerjaan masih berada di jalur yang tepat (on track) sesuai dengan target rencana yang telah disusun,” ujar Hendra Syahputra dalam keterangannya kepada media ini di Pekanbaru. Senin, 16/03/26.
Lebih lanjut, Hendra menjelaskan bahwa tantangan cuaca dan logistik material di lapangan dapat diantisipasi dengan baik oleh tim teknis. Ia memastikan bahwa pengawasan dilakukan secara berlapis mulai dari pengujian material hingga tahap implementasi di lapangan guna memastikan usia layanan jalan yang panjang.
Di sisi teknis operasional, Pejabat Pembuat Komitmen (PPK), Made Paus, ST., MT., memaparkan bahwa saat ini tim lapangan sedang berkonsentrasi pada penguatan struktur badan jalan. Mengingat ruas Pinang Sebatang Barat – Muara Kelantan didominasi oleh kendaraan angkutan hasil bumi, ketahanan struktur menjadi variabel yang tidak bisa ditawar.
“Kami fokus pada penyelesaian struktur perkerasan jalan. Mengingat volume kendaraan berat yang cukup tinggi di area ini, khususnya angkutan perkebunan, kami menerapkan standar spesifikasi teknis yang ketat. Progres 42,9 persen ini mencakup beberapa item pekerjaan mayor yang menjadi tulang punggung dari keseluruhan proyek ini,” jelas Made Paus.
Made juga menambahkan bahwa percepatan pengerjaan tetap mengedepankan aspek keselamatan dan kesehatan kerja (K3). Pihaknya optimis bahwa target penyelesaian pada April 2026 mendatang dapat tercapai secara maksimal, sehingga manfaat ekonomi dari jalan ini dapat segera dirasakan secara utuh oleh masyarakat luas.
Pembangunan jalan ini diyakini akan menjadi katalisator bagi pertumbuhan ekonomi lokal di Kabupaten Siak. Dengan kondisi aspal yang mantap, waktu tempuh pendistribusian hasil perkebunan seperti kelapa sawit dan karet dapat dipangkas secara signifikan. Hal ini secara otomatis akan menurunkan biaya logistik dan meningkatkan daya saing komoditas lokal.
Selain dampak ekonomi, aspek sosial juga menjadi sorotan. Infrastruktur jalan yang representatif diharapkan mampu menurunkan risiko kecelakaan lalu lintas dan meningkatkan kenyamanan berkendara bagi masyarakat yang melintas setiap harinya. Melalui program IJD ini, Kementerian Pekerjaan Umum membuktikan bahwa pembangunan infrastruktur tidak hanya berpusat di kota besar, namun menjangkau hingga ke urat nadi perekonomian di tingkat desa.(yb)










Tidak ada Respon